Kenanganku bersama Syeikh KH. Rahmat Abdullah, Allah Yarham, di saat saya meminta beliau untuk mengisi di acara “SETUJU” Sema’an Qur’an Tujuh Juz , hari pun berjalan dan kita sepakat untuk saling bertemu di Kantor DPP PKS, sampailah saya disana ditemani dengan salah seorang ikhwah, jelang beberapa menit saya menunggu di lobi akhirnya datang lah beliau menghampiri saya. Lalu terjadilah pembicaraan. Beliaupun melihat agenda hariannya, maklum agenda beliau sangatlah padat. Walhamdulillah acara yang kita tentukan hari H nya ternyata beliau bisa, hanya saja meminta kepada saya untuk konfirmasi pada saat menjelang acara. Saya sempat menanyakan : Ustadz mau dijemput atau gimana?? lalu beliaupun tersenyum berseri-seri, sambil berkata : antum mau jemput ana?? dan saya pun bertanya dikarenakan saya memang tak tahu rumah kediamannya pada saat itu. Saya bertanya : Ustadz rumahnya dimana? Beliau menjawab sambil tersenyum, rumah saya di bekasi. Terus beliau melanjutkan pembicaraanya, ga usahlah, antum ga usah jemput ana. Ana bisa jalan sendiri, terus juga pagi harinya saya ada undangan khutbah nikah. sebelum menyatakan kesediaannya beliau sempat bertanya kepada saya, mengapa antum minta ana ceramah tentang Al-Qur’an mengapa bukan ustadz-ustadz lain yang memang berkompeten dibidangnya. Akan tetapi saya tetap meminta dan berharap kepadanya. Walhamduillah beliaupun mengabulkannya.
Hari H pun datang, pesan beliau yang terngiung ditelinga saya sampai sekarang adalah, dikarenakan berkenaan dengan taujih qur’ani beliau menasehatkan kepada kita dengan menyebutkan hadits yang luar biasa. Al-mahiru bil Qur’an Maassafaratil Qiraamil Baroroh” Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia. Subhanallah…..subhanallah….
Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun terus bergulir. Setelah sholat isya saya mengangkat telepon rumah, seorang kakak meginformasikan kepada saya bahwa KH. Rahmat Abdullah telah meninggal dunia, pada saat itu saya pun sempat terhentak kaget, ya Allah, Ust. Rahmat?? Ust. Rahmat??? Beliau menjawab betul…betul… akhirnya pun saya bersama para ikhwah dan juga bersama ketua kaderisasi DPP PKS KH. Abdul Muiz, MA berangkat dalam satu mobil menuju bekasi, tepatnya di Iqro tempat kediaman beliau. Dijalanan yang menuju kearah kediaman beliau begitu banyak orang-orang, bergerombol,para murobbi, mutarobbi, para masyaikh,atatidaz. mereka semua berbondong-bondong menuju kearah rumahnya.lalu sampailah kita disana. Tepat didepan rumahnya, orang-orang begitu banyak mengantri seperti ngantri minyak tanah. Akan tetapi hanya saja sedikit berbeda, karena yang mengantri bukanlah orang biasa melainkan para asatidazh.. subhanallah.. mereka mengantri secara bergiliran untuk melihat sosok idolanya, murobbinya, sahabatnya. Antrian yang begitu panjang. Pada saatnya sayapun mendapatkan gilirian Alhamdulillah. Saya melihat beliau tidaklah seperti biasanya yang matanya biasa memadang akan tetapi pada saat itu beliau tanpa ruh hanya jasad yang tersenyum manis. Saya pun tak kuasa terharu dan langsung mengecup keningnya. Alhamdulillah, mudah2an kecupan saya menjadi saksi bahwa bibir ini pernah mengecup orang yang sholeh sang murobbi teladan. Selamat jalan ya syaikh, sampai berjumpa disyurga bersama Rasulullah Saw.
Kesanku terhadapanya …..
Beliau begitu Tawadhu, lembut, Tak ingin merepotkan, Da’i Sejati, Sang MurobbiTeladan….
Menghadapi ajal dengan sebuah senyuman manis dibibirnya ,seakan-akan Syurga didepannya…
Kecupanku yang kedua kepada sang murobbi, guruku …Ustadz Irfan Permana Allah Yarham…..
Pada saat duduk dibangku sekolah saya setiap sore hari mengikuti pengajian di masjid Al-Hikmah, saya diajarkan oleh seorang ustadz yang begitu tawadhu, bicaranya terjaga, senantiasa dibasahi dengan zikir,nafasnya tasbih, suaranya yang merdu dan syahdu ketika membaca Al-Qur’an, membuat hati kan dekat dengan Maha Pembolak balikan hati… matanya penuh dengan penjagaan dan kasih sayang, menjaga hal-hal yang Allah haramkan untuk melihatnya, selalu Goddul Basor.. pandangannya yg lurus ke depan tanpa melihat hal-hal yang tak bermanfaat, jalannya yang begitu gagah dibarengi dengan Al-Qur’an besar yang dipegang didadanya dengan penuh kebanggan. Beliau mengajarkan saya Al-Qur’an, mengajarkan supaya memanjatkan do’a dalam setiap selesai sholat. Menutup majlis halaqoh Al-Qur’an dengan do’a yang khusu’, beliau begitu marah jikalau kita bercanda pada saat berdo’a. kadang do’a pun dihentikan jika kami tak khusu’ dalam memanjatkan do’a. beliau pernah bekata kepada kita : wahai adik-adik apa yang kalian rasakan jikalau orang tua mu telah meninggal?? Saya pun berdiam diri, memikirkan bagaimana ya, jikalau orang tua kita meninggal dunia, hati kecil pun sedih. Itulah yang ia tanyakan kepada kita. Biasanya kita setelah menghafal Al-Qur’an diuji setiap selesai menghafal. Pada saat itu Alhamdulillah ujian yang beliau ujiakan kepada saya, sedikit banyak saya bisa menjawabnya. Dah beliau menganjurkan kepada saya untuk melanjutkan hafalan yang lain. Beliau sangat tegas kepada kita dalam mengajarkan Al-Qur’an jikalau kita bercanda, tidak sungguh2, terlambat, sampai-sampai masalah yang kecil yaitu tidak menggunting kuku, beliau sangat marah. Pernah suatu hari beliau mencubit kita dengan sangat keras karena memang kita tak sungguh-sungguh atau lalai, mencubit sangat kerrass akan tetapi dibarengi dengan ucapan : maafkan kakak ya…maafkan kakak ya…subhanallah…subhanallah…
Sekian lama kita belajar, ada saat perjumpaan ada saat perpisahan. Beliau menginginkan untuk kembali ke daerah asalnya di suka bumi untuk mengajar . pada saat akhir perjumpaan, beliau membawa seorang guru pengganti, yang memang penggantinya pun mempunyai kapasitas yang luar biasa. Beliau pun berkata disaat-saat perpisahan: “ maafkan kakak ya, klo kakak ada salah…” lalu berpisahlah kami dengannya. Pada suatu hari saya ditemukan kembali dengannya di acara besar di monas. Yang memang beliau pergi dari sukabumi ke Jakarta, karena memang menyempatkan diri, ini merupakan panggilan da’wah dan jihad.. Setelah berjumpa ia berkata : gimana kabarnya ? sudah berapa juz? Itu lah yang ia tanyakan.subhanallah…
Beliau tinngal disebuh daerah di suka bumi pedalaman, dan pernah berkata kepada istrinya, ya ummi inilah ladang da’wah kita…subhallah….saya juga mendapatkan informasi bahwa selama hanya beberapa bulan beliau sudah membina, mementoringkan beberapa kecamatan. luar biasa. Subhanallah…Allahuakabar
Beliau biasa berda’wah dari satu tempat ketempat lain dengan mengendarai sepeda motor, yang katanya jarak antara satu halaqoh ke halaqoh lain menghabiskan waktu 2 jam lamanya..subhanallah….
Pada suatu hari saya mendapatkan kabar bahwa beliau terkena musibah kecelakaan, tabrakan motor dengan mobil besar, pada saat itu ia mengendarai motor yang bertuju ke sebuah derah untuk berda’wah, membina ummat, halaqoh, mentoring. Pada saat itu beliau segera di bawa ke Rumah Sakit. setelah beberapa waktu kemudian mendapatkan informasi bahwa beliau sedang kritis. Saya bersama ikhwah lain langsung menuju ke suka bumi. dijalan kita saling bertukar cerita kenangan pada wakut bersamanya. Disela-sela cerita kita pun di hibur dengan nasyid yang menyejukkan hati, membuat diri ini terharu persisnya Nasyid Opick, subhanllah. Menjelang kira-kira 40 menit sampai ke tempat tujuan. Kami Mendapat berita bahwa beliau sudah meninggal dunia.. Innalilahi wa innailaihi raji’un. Kita pun kaget, sedih, rindu, lalu kami menginformasikan ke yang lainnya. Jenazah pun segera dipindahkan dari RS. Ketempat kediamannya. Lalu kami pun sampai, orang-orang pun begitu banyak baik dari kalangan para pemuda, bapak2 dll..kami bertemu dengan bapaknya sebelum menegur salam, sapa, terdengar oleh kita suara ikhwah lain berkata dengan bapaknya, sabar bapak, insyaAllah syahid..syahid..syahid..Subhanallah…subhanallah..subhanallah… dan bapak pun berkata amiiin..amiiin..ambill….sambil menangis..dan akhrinya kami melihat jenazah nya yang belum dikafani, belum dimandikan. Darah yang masih mengalir begitu segarnya, muka yang masih bengkak, terlihat jelas. Kami pun sedih. Setelah itu saya dan ikhwah lain mengecup keningnya kemudian memindahkannya ke tempat ruang tamu. beliau wafat pada usia relatif muda. subhanallah, ternyata Allah lebih mencintainya.
Hati kecil berkata : ya ustadzi, insyAllah meski engkau telah tiada, saya akan tetap membanggakanmu, saya akan membacakan, menyelesaikan ayat-ayat Al-Qur’an didepan mu , disyurga-Nya Allah…… itulah cita-citamu….sampai berjumpa wahai guruku….terima kasih telah engkau ajarkan semua kepada kami….semoga Allah mengampuni kesalahanmu dan memasukkanmu kedalam syurga-nya.Amiiin….
Kesanku terhadapanya …..
Beliau begitu Tawadhu, lembut, Tegas, selalu mejaga kesehatan dengan membiasakan olah raga, menutup setiap majlis dengan tausiyah dan do’a…
Tekun ibadah….ketika sujudpun terlihat tanda-tanda keseriusannya, terbukti dengan merahnya Nampak di wajahnya…
Senantiasa berdzikir……
Tak bosan-bosannya dalam berda’wah………….
Hidup senantiasa dengan naungan Al-Qur’an…..
Subhanallah………………………
Ya Allah pertemukan kami di Syurga-Mu…
Amiiin….


Mei 13, 2008 pukul 2:17 am |
[...] Ketika kukecup keningnya [...]
Mei 19, 2008 pukul 5:50 am |
maaf ya aku bukan kader PKS…
tapi, Qiyadah PKS…haha hoho…
PK-Tse chayyoo!!!
Juni 25, 2008 pukul 4:59 pm |
Oi udah dapet trailer yang keduanya belon!?
Qiyadah AtSe hahahaha……….
Betewe rioap.web.id nya udah mati
sekarang ga pake ap ==> rio.web.id
lebih keren lebih mantab!!!
Juli 17, 2008 pukul 7:38 pm |
Coba akh, artiin d0ng….
mutarobbi? masyaikh? atatidaz? asatidazh?
Maklum, saya orang baru… ^_^
Btw, itu pak Abdul Muis yg kmaren d DT ya? Hmm, pantesan kya pernah denger… Kya nama jalan, sih [serius nih].. Tapi afwan deh kmaren, emg pd ngantukk…
Juli 18, 2008 pukul 3:46 pm |
cari aja di kamus…
di perpus binus yang baru mungkin ada..
hahaha…
Juli 19, 2008 pukul 9:28 am |
………………………….