Ketika Ayat-ayat Allah berbicara….

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (An Nahl: 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al Anbiyaa’: 25)

“…Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama” (Az Zumar: 11)

“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al Maa’idah: 44)

“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (Asy Syuura: 13)


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An Nahl: 125)


Jika kita betul-betul menjadi umat yang bertaqwa, maka kekuasaan itu akan diberikan oleh Allah sebagai bonus, hadiah, inilah janji Allah yang tidak akan tercederai sedikitpun juga.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (An Nuur: 55)


Tapi sebelum menuju ke sana, jalannya memang tidak mudah, penuh rintangan dan cobaan seperti yang di alami para nabi sebelum kita (lihat Al An’aam: 10, 34 dan Al Anbiyaa’: 41). Juga yang paling penting harus dilakukan dengan keikhlasan tanpa membawa-bawa atau membangga-banggakan bendera dalam baksos…

“….Aku tidak meminta upah kepadamu…” (Al An’aam: 90)

“Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku…” (Huud: 29)


Lalu keteladanan dan konsistensi buat ummat yang ummiy…

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (Huud: 88) “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff; 2, 3)

janganlah kita dikuasai oleh nafsu ingin cepat berkuasa. Sementara Allah tidak pernah menargetkan kekuasaan kepada kita

Dalam buku Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan (Terjemahan Indonesia: Manajemen Qolbu, Melumpuhkan Senjata Syetan) karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziah rahimahullah dijelaskan dalam bab 11, bahwa manusia terdiri dari dua macam: Pertama, orang yang dikalahkan nafsunya, sehingga ia bisa dikuasai dan dihancurkan nafsunya, ia pun tunduk pada perintah-perintah nafsunya. Kedua, orang yang bisa mengalahkan dan memaksakan nafsunya, sehingga nafsu itu pun tunduk pada perintah-perintahnya.

Nafsu menyeru kepada kedurhakaan dan mengutamakan dunia, sedangkan Tuhan menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Dan hati di antara dua penyeru itu, terkadang ia condong kepada penyeru ini, dan terkadang pula condong kepada penyeru yang lain.

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (An Naazi’aat 37 – 41)

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah (Hai jiwa yang tenang), Irji’i ilaa robbi qirodiyatan mardiyyah (Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya), Fad khuli fii ‘ibaadii (Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku) wad khuli jannati (masuklah ke dalam syurga-Ku) Al Fajr (27-30) perlu kita pahami, bahwa kekuasaan bukanlah tujuan dakwah. Kekuasaan hanyalah sebagai buah dari dakwah itu sendiri. Dakwah hanyalah untuk mengajak manusia agar mereka kembali kepada Allah. Agar mereka beribadah kepada Allah saja dengan ibadah yang diajarkan oleh Allah melalui rasul Nya ( An Nahl 36). HANYA ITU.

Adapun berkuasanya satu kaum muslimin, dengan izin Allah, adalah bonus, karunia dari Allah kepada mereka. Kita bisa membaca kisah tentang para nabi sebelum nabi kita, sebagaimana dikisahkan oleh nabi Muhammad sendiri dalam salah satu hadits “ Ditampakkan kepadaku ummat ummat, maka ada seorang nabi yang datang bersamanya beberapa orang, kemudian datang seorang nabi yang bersamanya tiga orang, kemudian datang seorang nabi dan bersamanya satu orang dan ada nabi yang datang dan tidak seorangpun bersamanya ………….”.Dalam hadits ini jelas, ada nabi yang datang tanpa membawa pengikut, apatah lagi berkuasa. Akan tetapi, apakah dakwah para nabi ini gagal ? Tidak, tentu saja. Akan tetapi mereka telah menyampaikan risalah dari Rabbnya dengan sempurna. Dan mereka tetep berada pada puncak kemuliaannya, meski tak seorangpun mengikutinya. (bandingkan dengan target 20%, dengan melanggar apa yang diharamkan oleh Allah dan rasulNya). Kita pun bisa membaca hanya berapa nabi, dari sekian banyak nabi, yang diberi kekuasaan oleh Allah ? Tidakkah kita mengambil pelajaran ? Tidakkah kita berpikir ? Atau apakah ada penyakit dalam hati kita ? Partai hanyalah satu wasilah. Kalimat ini sering kita dengar, akan tetapi apakah kita benar-benar menjadikannya sebagai wasilah ? Ataukah justru kita menjadikan wasilah ini sebagai “sesembahan” selain Allah ? Karena ternyata wasilah ini telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah ? Karena wasilah ini telah melanggar rambu-rambu yang sesungguhnya menjadi tujuan dari didirikannya wasilah itu sendiri ?

Peringatan Nabi kepada Para Sahabatnya dilaporkan oleh Abu Sa’id al-Khudry yang menceritakan: “Ketika kami duduk di sekitar mimbar Rasul, Beliau bersabda, sesungguhnya yang paling kutakuti menimpa kalian, adalah jika dunia terbuka lebar di depan kalian, kesenangan nya terhampar di hadapan kalian.” (muttafaq alaihi).

Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.

Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Sebuah firman Allah dalam kalamnya yang agung: , mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 33-35).

Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktivis dakwah di jalan Allah (dai), agar selalu semangat dan istiqamah, tidak pernah gentar dan getir, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, tidak emosional dan seterusnya. Ayat tersebut diletakkan setelah sebelumnya di awal surat Fushshilat Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah.

Mereka mengatakan: hati kami tertutup, (maka kami tidak bisa menerima) apa yang kamu serukan kepadanya, pun telinga kami tersumbat, lebih dari itu di antara kami dan kamu ada dinding pemisah.” (Fushshilat: 5).

Dalam surat Al-Infithaar ayat 6 Allah berfirman: yaa ayyuhal insaan maa gharraka birabbikal kariim? (wahai manusia apa yang membuat kamu terpedaya, sehingga kamu lupa terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?)

Dalam ayat lain: kallaa bal tuhibbuunal aajilah watadzaruunal aakhirah (sekali-kali tidak, sungguh kamu masih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat) (Al-Qiyaamah: 20-21).

Tulisan yang mengingikan kepada asholah da’wah.

Kemenangan hakiki adalah kemenangan yang diridhoi’ Allah Swt..

Wallahu a’lam bishowab